Jumat, 05 April 2013

Kopiah Sebagai Identitas

Sudah tak asing lagi  bagi bangsa Indoneisa, betapa Bapak Proklamator kita Ir.Soekarno sangat bersahaja dalam mengenakan pakaian , terutama atribut  kebesarannya.. Apapun yang dikenakan serasa pas di badan dan berwibawa. Ada satu cirri khas yang tak kan pernah tergantikan oleh zaman yaitu pemakaian  Peci yang berwarna Hitam (Peci Hitam) atau dibeberapa daerah disebut Kopiah yang selalu dikenakan baik di acara kenegaraan maupun kunjungan internasional. 
Lalu Peci hitampun menyebar seantero nusantara dan bahkan sampai ke mancanegara, Setiap orang Indoensia bepergian ke luar negeri , maka peci hitam lah yang menjadi trade mark anak bangsa.

Lalu bagaimana dengan saat ini ? Meski di beberapa Negara tetangga khususnya bangsa melayu Peci sudah tak asing lagi dalam khasanah budaya melayu. Peci konon berasal dari bahasa Belanda pet (topi) dan je (kecil), disebut juga dengan kopiah atau songkok. Diperkirakan peci ini dibawa oleh para pedagang Arab ke semenanjung Malaysia pada abad ke-13. Tak heran kemudian penggunaan peci ini kemudian membudaya di Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapore, serta beberapa wilayah di Filipina dan Thailand.

Lagi-lagi kita ketahui bersama bahwa di Indonesia, penggunaan peci sebagai bagian dari pakaian resmi dipelopori oleh presiden pertama RI Soekarno. Pada suatu rapat Jong Java di Surabaya pada tahun 1921 Bung Karno mencetuskan ide mengenai pentingnya sebuah symbol bagi kepribadian bangsa Indonesia. Karena itulah Bung Karno lalu memperkenalkan pemakaian peci yang kemudian menjadi identitas resmi bagi partainya yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia). Dan karena popularitas Soekarno-lah sehingga kemudian pemakaian peci begitu memasyarakat di Indonesia.

Lalu pertanyaannya  kemana Peci Hitam yang membuat bangga sebagai warga negara Indonesia. Anak muda sebagai generasi penerus bangsa saat ini jarang kita lihat memakai peci hitam, kecuali di kalangan santri (pesantren ) saja. Beberapa di kenakan oleh laki-laki berumur dan sebagaian kecil dipakai ketika ke masjid (acara keagamaan) saja atau hanya dipakai  pada saat resepsi pernikahan. Ah yang penting pakai bukan?

Peci Hitam sebagai salah satu budaya Indonesia dan menurut saya ini adalah paling Indonesia selain dari Pakaian Batik yang sekarang mendunia dan sebagai warisan budaya milik Bangsa tercinta ini. Tidak terlepas dari keberagaman budaya daerah lainnya. Peci tidak hanya berfungsi sebagai penutup rambut waktu sholat saja  oleh umat Muslim, tapi telah menjadi identitas bangsa tanpa memandang agama suku dan ras. Para pemimpin dan pejabat sekarang ini sudah mulai enggan memakai mahkota Nusantara itu. Apakah ini pertanda kalau bangsa kita sudah mulai kehilangan budaya dan jati dirinya. Kopiah (Peci) paling hanya dipakai saat pelantikan dan even-even tertentu saja seperti foto gambar ,pelantikan pejabat dan acara resmi lainnya.

Tutup kepala yang terbuat dari beludru warna gelap dengan ketinggian antara 6-12 cm ini, ada yang mengatakan, bila dipandang dari segi bentuk merupakan modifikasi antara torbus Turki dengan peci India. Ada pula yang menyatakan bahwa kopiah memang asli kreasi nusantara. Penutup kepala, entah apakah bentuknya sama seperti kopiah-kopiah Indonesia sekarang, memang telah ada sejak dulu kala.

Yang jelas, menurut sejarah pada awal pergerakan Nasional 1908-an, kebanyakan para aktivis masih memakai daster dan tutup kepala blangkon, yang lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat. Seiring meluasnya gerakan sama rata sama rasa dan penolakan terhadap feodalisme -paham dan pola sikap yang mengagung-agungkan pangkat dan jabatan tanpa mengagungkan prestasi kerjanya- termasuk dalam berpakaian dan berbahasa, tokoh idola panutan kaum pergerakan waktu itu, Tjokroaminoto yang sering berkopiah, dengan sendirinya kopiah menjalar di kalangan aktifis, termasuk muridnya, Soekarno.

 Sejak saat itu kopiah yang semula merupakan tradisi pesantren dijadikan sebagai songkok nasional, identitas ke Indonesiaan, yang dipelopori kaum pergerakan. Ada yang bilang, berkat pesona seorang Soekarno, para aktivis dan priyayi waktu itu mulai menggunakan kopiah. Di samping menjadi simbol Islamisme, kopiah waktu itu juga sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme, yang mampu membedakan mana priyayi pro rakyat dan priyayi kolaborator Belanda.

Pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin, saat Nahdlatul Ulama (NU) mulai sangat aktif melibatkan diri untuk merespon perkembangan dunia luar, baik nasional maupun internasional. NU mengakui Nasioalisme Hindia Belanda dan mulai memperbolehkan warganya memakai pantaloon (celana panjang), namun identitas kesantrian harus tetap terlihat. Salah satu bentuknya adalah memakai kopiah, sehingga masih bisa dibedakan dengan kolonial Belanda.

Namun kini, kopiah bukan hanya identifikasi bagi seorang muslim, pembeda dengan penjajah, patriotisme, ataupun simbol nasionalisme. Lihat saja upacara–upacara pelantikan pejabat Negara, meskipun dia bukan seorang muslim, tidak sedikit yang memakai penutup berbahan beludru ini. Sering pula kita saksikan, bahkan kebanyakan, para perusak Negara memakai kopiah ketika tersudut di depan meja hijau. Berubah fungsikah?.
Permasalahan kopiah seperti di atas mestinya ‘menghina’ kecerdasan kita sebagai muslim, khususnya kalangan pesantren. Bagaimana mungkin cuma dengan modal kopiah, orang sudah dipercaya ‘pindah agama’. Segampang itukah? Bagaimana bisa ketaatan beragama hanya muncul sebagai penutup kepala, sebuah keputusan yang perlu dipertanyakan.
Tapi, mari kita hargai keputusan ini, sebab kita memang masyarakat yang gampang ditipu. Apalagi bila tipuan itu memuat unsur-unsur yang kita suka, simbol dan atribut, kopiah misalnya.

Begitu besar minat kita pada atribut, keindahan kemasan, hingga mendorong orang dengan mudahnya merubah kepribadian. Jika ia telah berdandan sedemikian rupa, merasa telah menjadi orang bertakwa. Untuk menjadi seorang nasionalis, kita cukup hanya dengan mengganti nama saja dan kalau mau jadi seniman, orang cukup bermodal memanjangkan rambut dan mengacak-acak dandanan.

Begitulah, zaman telah begini maju, tapi kita masih dengan mudahnya tertipu dengan ‘merek’. Bila kita tidak segera berbenah, jangan heran bila ke depan makin banyak kita temui para penipu.
Untuk mewaspadai hal itu, mulai sekarang kita harus menekan ambisi yang kelewatan atas sebuah simbol dan atribut. Perlu juga ada semacan penelaahan kembali oleh setiap muslim. Bagi kalangan pesantren, tentu penelaahan tentang perkopiahan juga perlu ada penekanan, karena ketika imej sebuah kopiah telah tercoreng, secara tidak langsung pesantrenpun terkena imbasnya.

Kalangan Islam pesantren mewajibkan tidak hanya kalangan santri tapi pemeluk Islam pada umumnya untuk selalu memakai tutup kepala yang digunakan sebagai bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang, atau minimal sebagai bentuk kelaziman. Kitab Ta’limulmuta’alim misalnya sangat menekankan untuk selalu memakai tutup kepala dalam kehidupan. Oleh pesantren tidak diterjemahkandalam bentuk sorban atau tutup kepala lainnya, tetapi diwujudkan dalambentukkopiah.

Oleh karena itu santri tidak pernah melepas peci, demikian juga saat menjalankan sembahyang masyarakat Islam selalu menggunakan kopiah, dianggap kurang utama bila menangalkannya. Bahkan santri yang berani menanggalkan kopiah disebut dengan santri gundul (tidak memakai tutup kepala) dan itu kemudian diidentikkan dengan santri badung yang sering melangar tatakrama, aturan dan pelajaran. Dengan demikian salah satu bentuk tradisi pesantren adalah tradisi memakai kopiah hingga saat ini, walaupun beberapa pesantren modern mulai meningalkannya.

Penggunaan kopiah sebagai identitas kiai itu semakin marak sejalan dengana semakin meluasnya Islam baik oleh para wali dan ulama maupun kiai di berbagai tempat, sehingga mereka yang sudah santri itu meneguhkan identitasnya dengan emakai kopiah berwarna hitam itu. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa bagi santri atau orang Islam yang belum menunaikan ibadah haji tidak diperkenankan memakai peci haji. Karena itu bila ada orang belum haji tentu sangat malu dan dicela ketika memakai peci haji warna putih. Mereka itu tahu adat dengan demikian mereka tetap mengunakan peci hitam. 

Peci Hitam sebagai salah satu budaya Indonesia dan menurut saya ini adalah paling Indonesia selain dari Pakaian Batik yang sekarang mendunia dan sebagai warisan budaya milik Bangsa tercinta ini. Tidak terlepas dari keberagaman budaya daerah lainnya. Peci tidak hanya berfungsi sebagai penutup rambut waktu sholat saja  oleh umat Muslim.

Dulu, sangat mudah kita jumpai orang yang menggunakan kopiah. Hampir semua orang tua memiliki kopiah. Bisa jadi, saat itu adalah masa-masa kejayaannya, pergi solat, pengajian, kondangan, kenduri, ambil rapot disekolah, rapat RT, kepasar atau kerja bagi guru dan PNS. Hampir semuanya, ditemani dengan kopiah. Kopiah bahkan bisa jadi sebuah identitas atau lambang kebaikan dan kesolehan bagi pemakainya. Malu rasanya melakukan hal yang tak patut ketika dikepala masih terpasang kopiah hitam. Karena menjadi sebuah lambang kesolehan itulah, maka jangan heran, banyak pengemis, peminta sumbangan dan bahkan penjahat yang sedang disidang kompak rame-rame pakai kopiah dalam menjalankan perannya. Mungkin dipikirnya orang akan tersentuh melihat orang soleh yang sedang kesusahan, atau pak hakim akan sedikit berfikir ulang ketika akan menjatuhkan vonis bagi sipenjahat yang kelihatan soleh dari tampang luarnya.

Dibalik perannya yang bermacam-macam, kopiah juga menyimpan fungsi rahasia bagi para orang tua jaman dulu, yaitu; sebagai penyimpan uang kertas dan sebagai tempat menyelipkan rokok  sisa acara kenduri kampung. Atau, bisa berubah fungsi jadi tempat nampung jeruk, duku, salak dan macam-macam jajan pasar, sepulang dari acara yasinan . 

Kini kopiah sudah mulai jarang kita lihat. Jangan-jangan, popularitasnya meredup seiring turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan. Jika diurut dari awal, dugaan saya; jaman Soekarno-lah era keemasan kopiah. Kegarangan Soekarno diatas mimbar, semakin terlihat khas dan berkarakter dengan kopiah hitam kokoh dikepalanya. Tidak ada salahnya, orang Asia Tenggara harusnya berterimakasih kepada Soekarno, karena sedikit banyak, Soekarno ikut andil mempopulerkan kopiah ke mancanegara, yang membuat kopiah seakan lekat menjadi identitas Indonesia, Melayu dan Asia Tenggara pada umumnya. Terlepas kopiah mendapat pengaruh dari budaya Islam jaman Utsmani, dan juga dikenal dibeberapa negara timur tengah, kopiah Indonesia tentu punya ciri khas berbeda yang tidak bisa dipersamakan dengan yang lainnya. Disaat negeri jiran Malaysia masih belum merdeka, Indonesia, Soekarno dan kopiahnya, sudah malang melintang di jagat politik internasional. 

Foto Soekarno dan kopiahnya seolah jadi satu paket yang tak terpisahkan, seperti foto Hasan Al Bana, tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir yang juga selalu berkopiah hitam mirip dengan Soekarno, atau Agus Salim, tokoh nasional yang mempunyai cirikhas janggut panjang di kebanyakan foto-fotonya
Kini, kopiah benar-benar kehilangan pamornya, setelah Soekarno dan Soeharto telah tiada. Penerusnya, tidak ada yang pas dengan tampilan kopiahnya, Presiden Habibi, sedikit miring dalam menggunakan kopiah, Megawati tidak mungkin pakai kopiah, Gus Dur lebih sering pakai kopiah anyaman, dan SBY tidak konsisten dalam penampilannya, kadang kopiah, kadang tidak, malah kelihatan lebih sering tidak menggunakannya. Maka, yang diingat dari SBY bukan kopiah hitamnya, tapi kacamata besar yang bermodel mirip Hu Jiantao Presiden China.

Kini, dalam sebuah solat jumat, aku perhatikan hanya beberapa orang saja yang masih setia dengan penutup kepala ini. Itupun kebanyakan dipakai oleh generasi yang sudah tidak muda, ubanan dan maaf, sedikit batuk-batuk karena faktor usia. Tren kopiah sudah digeser dengan penutup kepala yang warna warni, simple, bisa dilipat dan disaku ketika tidak digunakan.

Diteras rumah, aku menerawang jauh kebelakang, sepasang kopiah hitam yang baru aku beli kemarin, mengingatkan kopiah almarhum bapakku dulu yang sudar pudar warnanya, dan mengingatkan aku juga pada kopiah pemberian bapak sebagai hadiah sunatanku dulu.

Ah, sungguh sedih rasanya, bahkan aku belum sempat membelikan kopiah untuk bapakku. Pakne.., melalui kopiah ini, aku teringat tentangmu, tersayat-sayat rasanya hatiku, mengingat kopiahmu. Sungguh, bukan maksudku untuk tak ingin membelikanmu. Maafkan aku Pakne, engkau meninggalkanku sebelum aku mampu berbuat banyak untukmu. Dengan kopiah ini, aku dan cucumu berdoa untuk kebaikan njenengan disana.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . Suka-Suka Gendux - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger