Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

kuliah atau nikah

- 0 komentar
         
nol km tempat romatis jogja
by colorful
 Tahun 2015 ini adalah tahunya para cabe cabean dan terong torongan yang setelah menyeselsaikan masa abu abu putih dengan segenap kekuatan yang dimiliki. masa abu abu putih telah selsai dengan tanda seragam yang sudah tak berpola dan motif yang tak ada duanya. kisah cinta yang semakin absrut yang awalnya cuma cinta monyet kini orang tua sang "princes' (ingris jawa) ( #RIPenglis) mulai menginginkan bentuk keseriusan anda anda sekalian yang keperjakaannya masih diragukan. (hehehe pisss) .

          Kuliah atau kerja ya??
mungkin pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran anda anda para pejuang cinta. mungkin yang dari keluarga kelas atas orang tuanya punya sawah 10000 Ha anak bupati atau pengusaha lainnya mungkin tidak memusingkan hal itu, para jomblo juga gag terlalu pusing ya tingal kuliah kuliah aja kerja ya kerja moga dapat jodoh aja waktu menjalaninya aja...

lantas para PErjaga PErjaka rintisan ini menginginkan tetap bersama kekasih namun tak punya uang untuk menghidupinya? tentunya orang tua wanita tak akan setuju. mengapa???
"KARENA TIDAK ADA ORANG TUA YANG IKHLAS ANAK PEREMPUANNYA DI AJAK SUSAH OLEH LAKI LAKI LAIN". Ingin para lelaki wanita itu dibahagiakan orang tuanya dengan jeripayah dan banting tulang. Dirawat dari tukang ngompol, ingusan, dan bau. hingga jadi wanita yang cantik, wangi dan cerdas seperti impianmu itu.

SO?
sebeum kamu memutuskan Kuliah atau Kerja? cari tau dulu kemampuan finansialmu kedepan karena kuliah membutuhkan banyak biyaya. dan kerja menghilangkan kesempatan kamu tau lebih dalam mengenai ilmu tertentu.

Masalah Wanitamu?
Tanyakan dia seberapa ia menginginkan taraf hidup. hidup kejam bos? S1 ajah banyak yang jadi OB apa lagi pengangguran,

jangankan biyaya Setelah nikah biyay Pra nikah ajah udah mahal apa lagi cinta kalian penuh dengan impian.http://www.colorfulphotocinema.com/

[Continue reading...]

Jumat, 05 April 2013

Perempuanku, Perempuanmu, Prempuan Kita

- 0 komentar


(oleh : Pradina Dyan Istiqlal*)
Pengertian Sex dan Gender
            Seks mengacu pada jenis kelamin (Sunarto, 2000:112, Macionis, 1989: 314-315) yakni perbedaan bilogis antara perempuan dan laki-laki; perbedaan antara tubuh perempuan dan laki-laki. Defenisi konsep seks tersebut menekankan perbedaan kromosom pada janin. Oleh karena itu kalau kita berbicara tentang perbedaan jenis kelamin, kita berbicara tentang manusia (Fakih, 1995:8) yang berjenis laki-laki dan manusia yang berjenis kelamin perempuan. Jenis kelamin laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, dan memproduksi sperma. Sedangkan manusia perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki alat vagina dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis kelamin perempuan dan laki-laki selamanya.
Artinya, secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara keduanya. Secara permanen tidak pernah berubah dan merupakan  ketentuan biologi atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau  kodrat.
            Sedangkan Gender merupakan suatu sifat (Fakih, 1995:8-9) yang melekat pada kaum lelaki mapun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya perempuan itu dikenal: lemah lembut, cantik, emosional, keibuan. Sementara lelaki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ada beberapa karakter dari sifat-sifat tersebut yang dapat dipertukarkan. pertama, ada lelaki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Kedua, perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ketempat lain. Misalnya saja zaman dahulu di suatu suku tertentu perempuan lebih kuat dari laki-laki, tetapi pada jaman yang lain ditempat yang berbeda lelaki yang lebih kuat. Ketiga, dari kelas ke kelas masyarakat yang lain juga berbeda. Pada perempuan kelas bawah di pedesaan pada suku-suku tertentu lebih kuat dibandingkan kaum lelaki.
Menurut Giddens (Sunarto, 2000:112) konsep gender menyangkut perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan. Macionis (1989:315) mendefenisikan gender sebagai suatu sifat manusia yang diikat oleh budaya pada masing-masing jenis kelamin Gender dan Ideologi Patriarkhi
         Ideologi
            Ideologi (Jeffries, 1980:339) mengandung tiga elemen yaitu nilai, norma dan kepercayaan-kepercayaan. Nilai memuat apa yang diharapkan, diinginkan untuk dicapai, sedangkan norma mengandung unsur kewajiban yang memaksa seseorang untuk memenuhi apa yang diinginkan. Norma pada dasarnya bersifat mengatur. Elemen yang terakhir adalah kepercayaan yang memuat pandangan-pandangan yang ada dalam masyarakat.
         Patriarchy
            Patriarki (Macionis, 1989:317) merupakan suatu bentuk organisasi sosial yang mana laki-laki mendominasi perempuan.
         Indeologi patriarkhi
            Berdasarjan penjelasan dua konsep sebelumnya; ideologi dan patriarkhi, maka yang dimaksudkan dengan ideologi patriarki adalah pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superordinat dari perempuan. Perempuan dalam hal ini bersifat subordinat.
Gender dan Stratifikasi Sosial
            Macionis (1989:328) mendefenisikan stratifikasi gender yaitu sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan dan privelese antara laki-laki dan perempuan. Menurut Macionis, ketimpangan ini dijumpai diberbagai bidang; di dunia kerja, dalam pelaksanaan pekerjaan rumah tangga, dibidang pendidikan, dibidang politik, selain itu perempuan lebih cenderung menjadi korban kekerasan laki-laki dari pada sebaliknya.
            Adanya stratifikasi gender (Sunarto, 2000:116) telah mendorong lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum perempuan, yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan fenimisme.
Feminisme
            Menurut Giddens (Sunarto, 2000:116), feminisme telah bermula di Perancis pada abad ke 18 dan kemudin menyebar ke negara-negara lain dibenua Eropa, Amerika, Afrika dan Asia.
Macionis (1989:336-337) mengatakan bahwa feminisme merupakan suatu cara pandang baru dan berbeda mengenai diri kita sendiri dan masyarakat kita. Feminisme merubah pola-pola sosial yang konvensioanl yang diterima sebagaiman apa adanya oleh masyarakat. Dalam konteks ini, feminisme merupakan suatu tantangan baru khususnya terhadap nilai-nilai kekuasaan dan dominasi maskulinisme terhadap masyarakat yang patriarkhi. Oleh karena itu perjuangan feminisme bertujuan untuk menyamakan kedudukan sosial laki-laki dan perempuan, maka feminisme sering dianggap mereintegrasi kemanusiaan. Artinya kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama, dan oleh karena itu sudah seharusnya kesempatan-kesempatan sosialpun harus sama pada laki-laki dan perempuan.
Sosialisasi Gender
            Sosialisasi peran gender mulai dilakukan dikeluarga, kelompok-kelompok sebaya, dilembaga-lembaga  pendidikan dan juga media masa. Institusi dan kelompoks sosial di atas seringkali memberikan peran sosial yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan.
  1. Perspetif sosiologi terhadap stratifikasi gender
Ø  Perspektif Konflik.
            Randal Collins (Jeffries, 1980:198) mengatakan bahwa kepemilikan alat produksi memungkinkan kelas yang satu mengeksploitasi kelas yang lainnya. Pada umumnya kelas yang berkuasa itu adalah laki-laki. Ini berarti laki-laki mendominasi wanita berdasarkan kepemilikan alat-alat produksi. Dalam masyarakat tradisional dapat dijumpai pemanfaatan teknologi masih rendah dan tidak ada pembagian kerja yang signifikan antara laki-laki dengan perempuan, namun tidak demikian halnya menurut Collins dalam masyarakat modern. Sebab masyarakat modern lebih kompleks,  baik dalam konteks ekonomi, social, politik dan budaya.
            Pembedaan gender pada dasarnya (Fakih,1995: 11-20) tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidak adilan gender. Namun persoalan nyata, pembedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan.
Ketidakadilan itu nampak dalam marginalisasi peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan; pendidikan, politik, ekonomi dan sosial. Disribusi kekuasaan, presites dan hak-hak istimewa dalam masyarakat tidak seimbang. Ketidakadilan yang lain nampak dalam subordinasi perempuan. Perempuan dianggap sebagai kelas bawah dan suaranya tidak dapat diperhitungkan, di sini ada stereotipe. Dan yang lebih buruk lagi adalah kekerasan yang cenderung di alami oleh perempuan, padahal dalam konteks keluarga perempuanlah yang justru memikul beban ganda.
Kembali menegaskan bahwa semua manusia dilahirkan bebas, memiliki harkat dan martabat serta hak yang sama. Oleh karena itu Negara wajib menjamin persamaan hak antara pria dan wanita dibidang ekonomi, social, budaya dan politik. Seperti ditegaskan dalam kitab Tuhan, bahwa kita semua dimata-Nya.



*mahasiswa UIN Su-Ka Fisika 2012
[Continue reading...]

Asal Mula penindasan Perempuan

- 0 komentar

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki - inilah anggapan umum yang berlaku sekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin dalam prasangka-prasangka umum, seperti "seorang istri harus melayani suami", "perempuan itu turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya", dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini.
Tapi anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Para ahli antropologi sudah menemukan bahwa keadaannya tidaklah selalu demikian. 
Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari Dewan Suku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakat Indian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melalui sebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara. Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19. 
Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan dengan Romawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku.
Demikian pula yang berlaku di tengah suku-suku Schytia dari Asia Tengah. Di tengah mereka, bahkan perempuan dapat diangkat menjadi prajurit dan pemimpin perang.
Namun jika kita cermati lebih lanjut, masyarakat-masyarakat di mana kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara ini adalah masyarakat nomaden, yang mengandalkan perburuan dan pengumpulan bahan makanan sebagai sumber penghidupan utama mereka. Suku-suku Indian Iroquis sudah mulai bertanam jagung, namun masih dalam bentuk sangat sederhana. Demikian pula yang berlaku di tengah masyarakat Jermania dan Schytia. Pertanian, bagi mereka, hanyalah pengisi waktu ketika hewan-hewan buruan mereka sedang menetap di satu tempat. Data-data arkeologi bahkan menunjukkan bahwa pertanian primitif ini hanya dikerjakan oleh kaum perempuan sebagai pengisi waktu senggang, dan tidak dianggap sebagai satu hal yang terlalu penting untuk dapat dikerjakan oleh seluruh suku secara bersama-sama. 
Namun, ketika berbagai masyarakat manusia menggeser prikehidupannya ke arah masyarakat pertanian, seluruh struktur masyarakatpun berubah. Termasuk di antaranya hubungan antara laki-laki dan perempuan.
[Continue reading...]
 
Copyright © . Suka-Suka Gendux - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger