Sabtu, 29 November 2014

makalah kerja ilmu- ilmu sosial dan humaniora



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesussahan dari kami dari segala kesusaahan. Sesungguhnya Tuhan kami adalah zat yang Maha Pengampun lagii Maha penyayang. Dialah yang mewajibkan kami untuk mengerjakan sesuatu yang diperintahkan dan meninggalkan segala laranganNya. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya. Sholawat sertaa salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan sahabat.Makalah ini dibuat dengan judul ”Cara Kerja Ilmu Sosial dan Humaniora ” demi memenuhi tugas dan memberi pengetahuan bagaimana kita memahami cara kerjailmu sosial dan humaniora. Setelah pembaca mengetahui isi dari makalah yang telah dibuat, penulis mengharap kritik dan saran pembaca demi kelancaran pembuatan tugasselanjutnya.Penulis sadar betul bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 10 Oktober 2011
 Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

          Filsafah dan ilmu jelass merupakan dua elemen yang sangat berdekatan bahkan dapat dikatakan sebgai rumpun saling membesarkan. Filsafah adalah induk ilmu disatu sisilain, dan filsafat juga merupakan bagian dari ilmu disisi lain, oleh karena itu, pembicara filsafah dan ilmu bagaikan mendiskripsikan setali satu uang artinya berbicara dalam koridor yang sama. Dari konsep keduanyalah di bangun filsafah ilmu. Oleh karena itu, menjelaskan filsafah ilmu tidak dapat memisahkan pembicaraan antara filsafah dengan ilmu sendiri.
          Salah satu pokok bahasan yang dikaji dalam filsafat ilmu adalah ilmu sosial danhumaniora. Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial humaniora berkembanglebih kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena,objek kajian ilmu-ilmu sosial humaniora tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapilebih dibalik yang fisik dan materi dan bersifat lebih kompleks. Selain itu, dibandingkandenganilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial humaniora nilai manfaatnya tidak bisa langsungdirasakan karena harus berproses dalam wacana yang panjang dan memerlukan negosiasidan komprom.

BAB IIPEMBAHASAN
                                                           
          Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora berkembang lebih  kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena, objek kajianilmu-ilmu sosial-humaniora tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapi lebih dibalik yan gfisik dan materi dan bersifat lebih kompleks. Selain itu, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora nilai manfaatnya tidak bisa langsung di rasakan karena harus berproses dalam wacana yang panjang dan memerlukan negoisasi, kompromi dan konsensus. Seperti halnya ilmu-ilmu alam, manusia juga sudah barang tentu membutuhkan ilmu-ilmu sosial-humaniora untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak fisikalmaterial, melainkan lebih bersifat abstrak dan psikologis, seperti penemuan prinsip keadilanmembawa manusia untuk mengatur perilaku sosialnya atas dasar prinsip tersebut, dan prinsipkemanusiaan universal membawa manusia kepada sikap tidak diskriminatif atas orang lainmeski berbeda ras, warna kulit, agama etnis, budaya dan lain sebagainya.
          Cara kerja ilmu - ilmu sosial-humaniora bisa dirangkum dalam prinsip - prinsipseperti berikut:

a. Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup Dan Dinamis

          Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, di mana gejala-gejala alam yang ditelaah lebih bersifat “mati” baik yang ada pada alam, pikiran (matematika), maupun dalam diri manusia,gejala-gejala yang diamati dalam imu-ilmu sosial-humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Objek studi ilmu-ilmu sosial-humaniora adalah manusia yang lebih spesifik lagi pada aspek sebelah dalam atau inner world-nya dan bukan outer world-nya yangmenjadi ciri ilmu-ilmu alam. Perbedaan terlihat jelas, misalnya jika dibandingkan denganilmu kedokteran, meski sama-sama menelaah manusia, yang lebih membicarakan aspek luarnya manusia secara biologis atau fisikal, ilmu-ilmu sosial-humaniora lebih menekankan pada sisi bagian “dalam” manusia atau apa yang ada “di balik” manusia secara fisik, pada innerside, mental life, dan mind-affected world
..
b.Objek Penelitian Tidak Bisa Berulang

          Dengan demikian gejala-gejala sosial-humaniora cenderung tidak bisa ditelaah secara berulang-ulang, karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika kontekshistorisnya. Jika dalam ilmu-ilmu alam, gejala-gejala alam bisa ditelaah secara berulang-ulang, sehingga mampu dihasilkan hukum-hukum objektif dan nomotetik , sedangkan dalamilmu-ilmu sosial-humaniora, objek yang ditelaah atau gejala-gejala sosial-humaniora hanyadilukiskan keunikannya atau bersifat idiographic.Ilmu-ilmu sosial-humaniora hanyamemahami, memaknai dan menafsirkan gejala-gejala sosial humaniora, bukan menemukandan menerangkan secara pasti. Pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran ini lebih besar kemungkinan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, bahkan bertentangan, dari padamenghasilkan kesimpulan yang sama.

c.Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks

          Mengingat sifat gejala-gejala sosial-humaniora yang bergerak dan bahkan berubah,maka bisa dibayangkan ilmuwan sosial-humaniora dalam mengamati mereka sudah barangtentu lebih sulit dan komplek. Karena yang diamati oleh ilmu-ilmu sosial adalah apa yangada dibalik penampakan fisik dari manusia dan bentuk-bentuk hubungan sosial mereka.Melihat seseorang tersenyum pada orang lain adalah hal yang sering bisa ditemukan dalamkehidupan sehari-hari, tetapi makna senyum itu dalam ilmu sosial-humaniora bisa bermakna banyak,boleh jadi dia senang pada orang yg dilihatnya, boleh jadi dia tidak suka tetapiterpaksa tersenyum karena ia tidak ingin kelihatan sebagai orang yang tidak baik dimataorang-orang disekitar kejadian dia tersenyum itu, dan boleh jadi tersenyum karena orangyang dilihatnya adalah lucu dan aneh. Van Dalen menambahkan bahwa ilmuwan alam berkaitan dengan gejala fisik yang bersifat umum, dan pengamatannya hanya meliputivariable dalam jumlah yang relatif kecil dan karenanya mudah diukur secara tepat dan pastisedangkan ilmu-ilmu sosial-humaniora mempelajari manusia baik selaku peroranganmaupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambahrumit, dan karenanya variabel dalam penelaahannya sosial-humaniora relatif lebih banyak dan kompleks serta kadang-kadang membingungkan. Kuntowijoyo tentang hal ini menggaris bawahi bahwa manusia memilikifree will dan kesadaran, karena itulah, ia bukan benda yangditentukan menurut hukum-hukum yang baku sebagaimana benda-benda mati lainnya yangtak memiliki kesadaran apalagi kebebasan kehendak. Benda mati bisa dikontrol dandikendalikan secara pasti, tetapi manusia tidak bisa karena disamping dikendalikan, ia juga bisa mengendalikan orang lain. Determinisme dalam segala bentuk apakah itu ekonomi,lingkungan alam, lingkungan sosial, politik dan dan budaya hanya berharga sebagaidependent variable tetapi tidak pernah menjadi independent variable. Oleh karenaa itu, jelas bahwa pengamatan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora adalah jauh lebih kompleks, subjek dan objek penelitian adalah mahkluk sang sama-sama sadar yang jelas tidak mudahmenangkap dan ditangkap semudah menangkap realitas batu misalnya.

d. Subjek Pengamat (Peneliti) juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati

          Subjek pengamat atau peneliti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jelas jauh berbedadengan ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu-ilmu alam, subjek pengamat bisa mengambil jarak danfokus pada objektivitas yang diamati, tetapi dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora karena sujek yang mengamati dan subjek yang diamati adalah manusia yang memiliki motif dan tujuandalam setiap tingkah lakunya, maka subjek yang yang mengamati atau peneliti tidak mungkin bisa mengambil jarak dari objek yang diamati dan menerapkan prinsipobjektivistik, dan tampaknya lebih condong ke prinsip subjektivistik. Karena subjek yangmengamati adalah manusia yang juga memiliki kecenderungan nilai tertentu tentang hidupmaka ia menjadi bagian integral dari objek yang diamati yang juga manusia itu. Dalammengamati gerak-gerik planet seorang ilmuwan alam tidak perlu berpusing-pusingmemikirkan motif dan tujuan dari planet itu, ia hanya perlu menjelaskan apa yang dilihatnya,dan proses mengamati itu bisa diulang-ulang dengan gerak planet yang masih tetap sama. Namun dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, peneliti yang mengamati perilaku sosialmasyarakat tentang harus “membongkar” motif dan tujuan dari perbuatan yang dilakukanmereka dan dalam “membongkar” ini, peneliti tidak bisa melepaskan dari kecenderungan-kecenderungan nilai individu yang sedang dipeganginya. Dengan cara ini, objek sosial-humaniora yang sama diamati oleh beberapa pengamat hampir bisa dipastikan tidak akanmenghasilkan kimpulan yang tunggal, tetapi cenderung beragam dalam interpretasi-interpretasinya.
          Subjek pengamat sosial-humaniora bukanlah sekedar sebagai spektator atas suatukejadian sosial-humaniora, melainkan terlibat baik secara emosional maupun rasional dalamdan merupakan bagian integral dari objek yang diamatinya. Manusia bisa mengamati benda- benda fisik seperti gerak-gerak angin tanpa terlihat secara pribadi, tetapi manusia tidak mungkin mengamati manusia lain tanpa melibatkan minatnya, nilai-nilai hidupnya,kegemaran, motif, dan tujuan pengamatan manusia akan mempengaruhi pertimbangan- pertimbangan dalam mempelajari gejala sosial-humaniora.
          Oleh karena itu, meminjam istilah Dilthey lagi, jika dalam ilmu-ilmu alammenggunakan Erklaren (penjelasan), maka dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, pengamatannya memakai Versteben (pemahaman). Versteben atau memaknai memegangi prinsip mengungkapkan makna dan tidak sekedar menjelaskan. Di dalam terkandung prinsip bahwa pengalaman dan pemahaman teoritis tak terpisahkan dan justru dipadukan.Pengalaman dan struktur-struktur simbolis yang dihasilkan di dalam dunia kehidupan sosial-humaniora itu tak bisa tampak “dari luar” seperti data alamiah yang doobservasi oleh ilmu-ilmu alam, melainkan harus dilibati “dari dalam” diri subjek sosial-humaniora. Apa yangingin diketahui bukanlah sekedar kausalitas, malainkan pengertian dan makna.Versteben pada prinsip mengungkapkan pengertian dan makna adalah benar, tetapi untuk memahami pemikiran orang lain dengan berempati masuk dalam personalitas dan relung-relung bagianterdalam yang diamati tanpa melibatkan sedikitpun atau menanggalkan sepenuhnya relung-relung bagian terdalam dari sujek yang mengamati adalah hal yang belum tentu benar dalam Versteben karena ini terdorong oleh prinsip objektivistik. Dalam mengungkapkan pengertiandan makna, tetap bahwa relung-relung bagian terdalam dari subjek penelitian tetap tidak bisasepenuhnya dilepaskan seperti yang dipegangi dalam hermeneutika Heidegger dan Gadamer.

e.Memiliki Daya Prediktif Yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol
          Suatu teori sebagai hasil pengamatan sosial-humaniora tidak serta merta bisa denganmudah untuk memprediksikan kejadian sosial-humaniora berikutnya pasti akan terjadi. Halini dikarenakan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, pola-pola prilaku sosial-humaniora yangsama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama. Meskipun demikian, bukan berarti hasil temuan dalam ilmu-ilmu sosial tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalkankejadian-kejadian sosial lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat yg berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan semudah dalam ilmu-ilmu alam





BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Beberapa abad lamanya dunia keilmuan berada dalam pengaruh positivisme. Dominasi yang demikian kuat itu dihasilkan oleh isu yang diangkatnya. Yakni masalahmetodologi, dimana para positivistis tidak menerima pengetahuan melainkan ia dapatdiverifikasi serta bersifat obyektif. Paradigma semacam itu tampak masuk akal sehinggadapat diterima para saintis dalam kurun waktu yang lama. Namun seiring dengan melebarnya"wilayah kekuasaan" positivisme, ia justru mulai menampakkan kelemahan - kelemahannya.Kekakuan paham ini membuat ilmuwan yang tidak menyukainya berusaha keras untuk melampauinya.
Dalam tugas makalah ini dijelaskan mengenai cara kerja ilmu - ilmu sosial danhumaniora sebagai redefinisi dan sanggahan atas positivisme. Secara ringkas, cara kerja ilmu- ilmu sosial dan humaniora dapat dipahami sebagai berikut :

1.Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup Dan Dinamis.
2.Objek Penelitian Tidak Bisa Berulang.
3.Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks.
4.Subjek Pengamat (Peneliti) juga sebagai Bagian Integral dari Objek yangDiamati.
5.Memiliki Daya Prediktif Yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol.

Poin keempat jelas - jelas adalah fakta yang menyangkal positivisme,sedangkanalasannya diberikan oleh poin kelima. Namun demikian, bukan berarti positivisme salah.Akan tetapi wilayahnya hanya terbatas pada ilmu pengetahuan yang bersifat objektif saja,dalam hal ini ilmu alam

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . Suka-Suka Gendux - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger